Pengembangan Metode Seni Lukis Di Kegiatan Studi Pendidikan Seni Rupa
Wednesday, July 3, 2019
Edit
PENGEMBANGAN METODE SENI LUKIS DI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SENI RUPA
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas metode analisis bentuk dalam pengajaran seni lukis bagi mahasiswa Semester V Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta. Analisis bentuk merupakan studi seni rupa dengan pendekatan yang rasional (intelektual), sehingga diduga bisa membantu mahasiswa dalam berkarya dan berpikir perihal seni lukis.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimen-tal semu dengan desain noneguivalent control-group desain, dengan mempertimbangkan kemampuan awal mahasiswa. Populasi penelitian ini yaitu mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta semester V, sedangkan sampel diambil secara intact berjumlah 32 mahasiswa, terdiri dari 18 mahasiswa Kelas A (sebagai kelompok perla-kuan) dan 14 mahasiswa Kelas B (sebagai kelompok kontrol).
Teknik analisis data memakai analisis kovariansi untuk membedakan rerata prestasi seni lukis pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, dengan memperhitungkan prestasi seni lukis pada Semester IV). Hasil uji perbedaan rerata memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifi-kan rerata prestasi seni lukis antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol (F=4,441, p=o.,043). Dengan demikian, sanggup disimpulkan bahwa analisis bentuk sanggup meningkatkan kemampuan seni lukis mahasiswa.
Kata Kunci : Metode Analisis Bentuk Dalam Pengajaran Seni Lukis
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia,
telah dilakukan perbaikan-perbaikan baik dengan pembaharuan kurikulum, pengembangan sarana pendidikan maupun peningkatan pelaksanaan pengajaran. Proses belajar-mengajar tetap perlu mendapat perhatian, lantaran masih terdapat masalah-masalah fundamental dalam pengajaran yang harus dipecahkan.
Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini ber-maksud menyelidiki salah satu aspek pengajaran di p'rogram Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta, yaitu pe-ngajaran praktek seni rupa, khususnya seni lukis. Ber-dasarkan pengamatan, masih terdapat kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan pengajaran praktek seni lukis. Kenyataan memperlihatkan bahwa pada umumnya nilai praktek seni lukis mahasiswa rendah. Dalam melukis dengan obyek, maha-siswa sering mengalami kebingungan dalam pemilihan obyek dan sering juga hanya mencontoh gambar dari foto. Banyak karya seni lukis mahasiswa yang belum memenuhi syarat sebagai lukisan, melainkan hanya sebagai "gambar", lantaran tidak mencerminkan suatu komposisi dan eskpresi.
Melihat gejala-gejala tersebut, nampak bahwa dalam mencar ilmu melukis pada umumnya mahasiswa cenderung memakai cara trial and error dan kurang sanggup memanfaatkan pengetahuan perihal elemen bentuk dan prinsip-prinsip komposisi. Kelemahan dalam komposisi atau organisasi elemen-elemen visual dalam seni rupa merupakan kelemahan yang mendasar. Bentuk merupakan "bahasa" seni rupa, sehingga tanpa organisasi bentuk, lisan tidak akan terwujud.
B. Identifikasi Masalah
Untuk meningkatkan hasil pengajaran seni lukis antara lain dibutuhkan perbaikan metode pengajaran. Masalah yang timbul yaitu metode apakah yang sanggup dipakai untuk meningkatkan kemampuan melukis mahasiswa.
C. Batasan Masalah
Dalam penelitian ini, dilakukan eksperimen penerapan metode analisis bentuk dalam pengajaran seni lukis. Hetode analisis bentuk yang dimaksud yaitu suatu metode khusus dalam seni rupa untuk memahami makna karya seni rupa berdasarkan struktur bentuknya. Di sini, analisis bentuk digunakan sebagai metode pembahasan karya seni lukis dalam pe-ngajaran Seni Lukis Lanjut.
D. Perunusan Masalah
Permasalahan dalam penelitian ini selanjutnya sanggup dirumuskan sebagai berikut: Apakah melalui metode analisis bentuk kemampuan melukis mahasiswa sanggup meningkat?
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah metode analisis bentuk sanggup meningkatkan kemampuan melukis mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa?
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini secara mudah bermanfaat bagi perbaikan pengajaran seni lukis di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FPBS IKIP Yogyakarta. Secara teoritis, hasil penelitian ini merupakan tunjangan bagi pengetahuan ten-tang metode pengajaran seni rupa, khususnya seni lukis.
LANDASAN TEORI, KERANGKA BERPIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Landasan Teori '
1. Pengertian Seni, Seni Lukis dan Lukisan
Seni berasal dari kata Latin “ars” yang artinya keahlian mengekspresikan ide-ide dalam pemikiran estetika, termasuk mewujudkan kemampuan serta imajinasi penciptaan benda, suasana, yang bisa mengakibatkan rasa indah (Ensiklopedia Nasional Indonesia, 1991:525).
Pengertian seni berdasarkan Bastomi (1992:8) adalah: “Seni merupakan hasil kreativitas penciptanya, yang terwujud dalam bentuk kreasi dari hasil pengolahan yang kreatif dan salah satu sifat seni yang menonjol yaitu kebaharuannya”. Selanjutnya Sudarmaji (1973:9) menyampaikan bahwa: “Seni yaitu segala manifestasi batin dan pengalaman estetis dengan media grafis, warna, tekstur, volume, dan ruang”. Dalam berkarya seni, segala manifestasi batin dan pengalaman estetis yang dituangkan melalui media seni, dibutuhkan suatu konsentrasi atau pemusatan pikiran biar dalam menuangkan gagasannya sanggup memuaskan batin penciptanya.
Seni sanggup pula dilihat sebagai pengungkapan perasaan atau emosi penciptanya, sehingga menjadi karakteristik dalam arti mencerminkan kehidupan perasaan penciptanya. Seperti apa yang telah dikemukakan di atas, bahwa seni yaitu hasil kreativitas insan yang mempunyai sifat kebaharuan serta bisa membangkitkan rasa indah bagi si penciptanya maupun si penikmat seni. Seni merupakan hasil dari pengalaman penciptanya yang telah melalui proses dalam pengungkapan gagasan maupun cara pengungkapannya. Seni lukis yaitu merupakan salah satu cabang dari seni yang dalam proses berkaryanya mengunakan medium dua dimensional.
Tentang seni lukis dikemukakan oleh Read (lewat Soedarso SP.1975:2) dikatakan bahwa:
Seni Lukis yaitu penggunaan garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk (shape) pada suatu permukaan yang bertujuan membuat image-image, emosi-emosi pengalaman yang di bentuk sedemikian rupa sehingga mencapai harmonis.
Pengertian seni lukis yang ditinjau dari proses pembuatannya dikemukakan oleh Mayers ( dalam Sahman,1993:55
Dari beberapa pendapat di atas telah banyak di kemukakan pengertian perihal seni lukis sebagai suatu hasil kreativitas ciptaan insan melalui pengolahan aneka macam unsur rupa seperti: garis, warna, tekstur, ruang dan bentuk (shape) pada bidang datar yang bertujuan membuat image-image dan emosi pengalaman yang dibuat sedemikian rupa dalam suatu harmoni. Berbagai kesan yang ditimbulkan dari pengolahan unsur-unsur tersebut diharapkan sanggup mengekspresikan makna atau nilai simbolis. Dengan demikian yang dimaksud dengan karya lukisan ialah suatu bentuk visual pada bidang dua dimensional yang merupakan wujud hasil ciptaan pelukis melalui pengolahan dan konfigurasi dari aneka macam unsur rupa
Menurut Cleaver (1966:1-2), seni rupa yaitu suatu obyek yang mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan dan membangkitkan pengalaman dalam suatu disiplin. Seniman menyusun dalam suatu disiplin unsur-unsur ibarat garis,
bidang, warna, gelap-terang, dan tekstur. Pelukis atau pematung sanggup memakai unsur-unsur tersebut untuk menggambarkan obyek-obyek dari kehidupan sehari-hari dan memberikan perasaan perihal obyek itu, atau seniman sanggup memakai unsur-unsur tersebut untuk membuat suatu bentuk obyek yang sama sekali gres sebagai materi renungan. Apapun bidangnya, seniman menoiptakan karyanya dengan mengkomposisikan unsur-unsur dasar tersebut, dan kata "komposisi" menjadi sebutan lain dari karya seni rupa. Obyek-obyek atau keseluruhan obyek dalara karya seni rupa disebut "bentuk", tetapi "bentuk" juga dipakai untuk menunjuk seluruh ciri-ciri atau struktur dari suatu komposisi. Karena itu, studi perihal bagaimana unsur-unsur visual dan rabaan berfungsi dalam seni rupa disebut sebagai "analisis bentuk" (formal analysis).
Sebagai pendekatan intelektual, analisis bentuk tidak memperlihatkan rumus-rumus secara pasti, tetapi memperlihatkan ke-rangka umum dan rasional untuk memahami karya seni rupa. Dengan pendekatan yang bersifat rasional tersebut, nilai keunikan dan keindahan suatu karya seni tidak akan hilang, lantaran apresiator dengan sendirinya tetap memakai intuisinya dalam mengamati karya seni rupa yang visual sifatnya.
2. Analisis Bentuk dalam Seni Lukis
Secara teknis, seni lukis yaitu seni membubuhkan pigmen atau cairan warna pada bidang datar (kanvas, papan,
dinding, kertas) untuk menghasilkan sensasi atau delusi ruang, gerak, tekstur^/ dan bentuk, serta ketegangan-ketegangan yang dihasilkan oleh kombinasi dari elemen-elemen tersebut. Melalui perangkat teknis tersebut, seni lukis mengungkapkan nilai-nilai intelektual, emosional, simbolis, religius, dan nilai-nilai subyektif yang lain (Myers, 1962: 156).
Untuk mengungkapan perasaan, pelukis sanggup mengolah elemen-elemen garis., warna, gelap-terang, bidang, dan tek-stur. Lukisan yang mengesankan dinamika, misalnya, biasan-ya memakai garis-garis yang diagonal (miring), bentuk-bentuk yang tidak beraturan, dan pewarnaan yang kontras, sesuai dengan sifat dinamis dari elemen-elemen bentuk tersebut. Sebaliknya, lukisan yang berkesan hening biasan-ya memakai garis-garis yang horizontal atau vertikal dan gradasi warna yang lembut, sesuai dengan sifat stabil (diam) dari elemen-elemen tersebut.
Dengan mengatur perspektif, pelukis sanggup mengesankan ruang dengan imbas tertentu. Dalam pemdangan alam, misal-nya, garis cakrawala yang ditarik di atas tinggi normal akan menimbulkan jarak suatu benda di latar depan terhadap benda di latar belakang berkesan dramatis, lebih jauh dari jarak yang sesungguhnya.
Dengan menentukan jenis bahannya (cat minyak, cat air, pastel), pelukis sanggup mengeksploitasi sifat-sifatnya untuk mendukung isi yang diekspresikan. Untuk melukiskan
kelembutan dan kelemahan, misalnya, pelukis sanggup menggu-nakan cat air yang sifat lembut dan transparan sifatnya dan, sebaliknya, untuk memperlihatkan kesan kokoh atau abadi, pelukis memakai cat minyak yang sifatnya keras dan pekat.
- Unsur-unsur Lukisan
1) Garis
Garis yaitu batas limit dari suatu benda, massa, ruang, warna, dan lain-lain.
Garis hanya berdimensi memanjang serta mempunyai arah, mempunyai sifat-sifat seperti: pendek, panjang, vertikal, horisontal, lurus, melengkung, dan seterusnya. Garis terjadi andaikata suatu titik sanggup bergerak dan membekaskan jejaknya. Terjadinya suatu garis disebabkan oleh hasil daya gerak. Kualitas khas dari suatu garis yaitu akhir dari imbas ekspresinya bergantung kepada tiga faktor pokok yaitu: sifat dari orang yang membuat garis tersebut, alat dan medium yang memproduksinya, dan permukaan yang menerimanya.
Kualitas garis yang paling menarik yaitu kapasitasnya untuk mensugestikan massa atau bentuk tiga dimensional. Garis merupakan elemen yang sangat penting dalam seni lukis, lantaran melalui garis, seorang pelukis sanggup mengekspresikan pengalamannya yang paling esensial dan sanggup menuangkan ide-ide ke dalam bidang kanvas.
2). Warna
Dalam hal ini Sidik dan Prayitno (1981:10) menjelaskan perihal batasan mengenai warna sebagai berikut:
- Warna berdasarkan ilmu fisika yaitu kesan yang ditimbulkan oleh cahaya pada mata.
- Warna berdasarkan ilmu materi yaitu berupa pigmen. Pigmen utama yaitu merah, kuning, biru, dan jikalau dua warna dicampur menghasilkan warna sekunder.
Warna sanggup dipakai untuk hingga pada kesesuaian dengan kenyataan objek yang akan dilukis ibarat pelukis realis dan naturalis, dan ada beberapa pelukis menerapkan warna sebagai warna itu sendiri tidak demi bentuk untuk pengekspresiannya. Peranan utama dalam warna yaitu sejauh mana warna tersebut sanggup mempengaruhi mata sehingga getaran-getarannya sanggup membangkitkan emosi penikmatnya.
Peranan warna dalam seni lukis memang sangatlah esensial. Dalam hal ini warna sanggup menyatakan aneka macam maksud dan tujuan yang diinginkan oleh pelukis, sehingga apa yang diinginkan atau dipikirkan sanggup terwakili oleh warna tersebut.
3). Bentuk
Menurut Sahman (1993:29) diungkapkan bahwa yang disebut dengan bentuk adalah: “Wujud lahiriah/indrawi yang secara eksklusif mengungkapkan atau mengobjektivasikan pengalaman batiniah”. Menurut Read (lewat Soedarso SP,2000:11) dinyatakan bahwa bentuk mempunyai pengertian Shape berarti bentuk (gatra) sedangkan form sanggup diartikan sebagai wujud. Pengertian ini sanggup dijelaskan sebagai berikut:
Bentuk dalam hal ini yaitu shape, sedangkan dalam strukturnya kedudukan bentuk sama dengan unsur visual: warna, garis, dan tekstur. Sementara cuilan bentuk mungkin berupa, pohon, binatang, dan manusia. Kemudian wujud yaitu form yaitu: susunan bagian-bagian aspek visual, dan wujud hasil seni tidak lain yaitu bentuk susunan bagian-bagiannya.
Bentuk merupakan wujud lahiriah suatu hasil karya seni sedangkan wujud merupakan sesuatu benda kasatmata atau bentuk yang kelihatan. Untuk memahami atau mengerti perihal wujud hasil karya seni dibutuhkan klarifikasi atau pengemukaan rupa atau bentuk yang kelihatan tersebut, yang berarti bahwa wujud di sini yaitu bagaimana kita sanggup mengemukakan aspek visual yang menyangkut bagian-bagian yang tersusun dalam sebuah lukisan.
4). Gelap Terang
Efek gelap terang dicapai melalui penyusunan warna yang pada umumnya untuk mendapatkan kesan volume atau dimensi ketiga pada lukisan. Hal ini berdasarkan pada arah jatuhnya sinar pada objek yang dilukiskan. Myers (lewat Sahman, 1993), menjelaskan bahwa seorang pelukis jikalau ingin mendapatkan kesan tiga dimensi pada hasil lukisannya maka pelukis tersebut lebih baik memakai teknik kiaroskuro atau gelap terang yang dalam bahasa Inggris disebut clear-obscure (clear-terang; obscure-gelap). Gelap terang yang dimaksud sanggup ditampilkan secara sedikit demi sedikit atau secara tiba-tiba yang memakai teknik gradasi.
2. Analisis Bentuk bagi Mahasiswa
Terhadap karya seni lukis sanggup dilakukan kajian dengan pendekatan yang bersifat rasional yaitu melalui metode analisis bentuk. Analisis bentuk mempunyai kegunaan bagi seniman untuk mengatur komposisi dalam karyanya dan bagi apresiator, mempunyai kegunaan dalam memahami makna karya seni rupa. Bagi mahasiswa, analisis bentuk bermanfaat dalam belajar
berkarya seni lukis., yaitu dalam menyebarkan konsep penciptaan, dalam proses melukis, serta dalam melaksanakan koreksi terhadap karya yang telah dihasilkan. Metode analisis bentuk yang dipakai di sini dilaksanakan sebagai komplemen terhadap metode sanggar yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY, yaitu dengan cara memperlihatkan pengetahuan perihal dasar-dasar analisis bentuk dan menerapannya dalam diskusi hasil karya seni lukis mahasiswa. Pengetahuan perihal analisis bentuk gotong royong akrab dengan pengetahuan desain dasar., maka di sini pengetahuan desain dasar ditekankan fungsinya sebagai landasan berkarya seni rupa. Dengan demikian, mahasiswa selalu terkontrol oleh kesadarannya terhadap elemen-elemen bentuk dan aspek-aspek komposisi, sehingga sanggup menghasilkan karya yang penuh kesadaran .
B. Kerangka Berpikir
1. Pelaksanaan Pengajaran Seni Lukis di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta
Sebagai calon guru seni rupa, mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta dilatih ke-trampilannya yaitu ketrampilan dalam berkarya seni rupa, antara lain berkarya seni lukis. Seni lukis diberikan kepada mahasiswa mulai semester ketiga hingga semester kelima, dengan nama mata kuliah Seni Lukis Dasar, Seni Lukis Dasar Lanjut, dan Seni Lukis Lanjut.
Pelaksanaan pengajaran seni lukis tersebut selama ini memakai semacam metode sanggar, lantaran tidak memberikan teori secara sitematis, melainkan cenderung tnembiarkan mahasiswa untuk menyebarkan kemampuannya secara trial and error. Metode sanggar ini menekankan intensitas dalam dunia seni., sehingga memerlukan lingkungan yang mendukung, yaitu adanya kesibukan berkarya dan berdiskusi perihal seni secara alami.
Menurut pengamatan, penerapan metode tersebut di lingkungan kampus mendapat aneka macam kendala. Kenyataanya lingkungan kampus kurang memperlihatkan suasana kesenian. Mahasiswa lebih suka berkarya di rumah dari pada di kam-pus, lantaran waktu di kampus dirasakan sangat terbatas, contohnya lantaran jadwal perkuliahan yang ada. Menurut pengamatan, juga hampir tidak terjadi diskusi seni yang timbul secara berdikari di kalangan mahasiswa. Hal ini sanggup disebabkan oleh kurangnya kemampuan mahasiswa dalam membahas karya seni rupa.
Dalam diskusi yang sifatnya formal yakni dalam sarasehan pada final kiprah pameran, nampak bahwa pada umumnya mahasiswa tidak bisa memperlihatkan pembahasan karya secara problematis. Perhatian mahasiswa biasanya hanya tertuju pada problem tema dan teknik dan tidak hingga pada bentuk (komposisi) karya itu sendiri.
Dengan demikian, harus dicari jalan keluar untuk membantu mahasiswa dalam berkarya dan berbicara perihal seni lukis dengan pendekatan intelektual atau rasional dan sistematis. Untuk itu, metode analisis bentuk merupakan salah satu alternatif yang perlu diambil dan diterapkan dalam pengajaran seni lukis.
C. Pengajuan Hipotesis
Berdasarkan uraian di atas sanggup diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: Dalam pengajaran berkarya seni lukis, metode analisis bentuk memperlihatkan hasil lebih baik dibandingkan dengan metode sanggar yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY .
CARA PENELITIAN
A. Wilayah Generalisasi
Hasil penelitian ini akan digeneralisasikan terhadap seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY, yang akan menempuh mata kuliah Seni Lukis Lanjut pada Semester V.
B. Populasi dan sanpel
Populasi penelitian ini yaitu seluruh mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Semester V. Sampel penelitian diambil secara intact yaitu dengan mengambil seluruh mahasiswa semester V tahun akademik 2005/2006 yang terdiri dari Kelas A dan Kelas B.
C. Desain penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental semu (guasy experimental research) dengan memakai nonequivalent control-group design yang secara diagram digambarkan sebagai berikut (Borg and Gall, 1983):
Dalam diagram tersebut, X memperlihatkan perlakuan eksperi-men, sedangkan 0 memperlihatkan pengukuran pretest atau posttest terhadap variabel terikat. Dalam penelitian ini, kelompok perlakuan mendapat perlakuan dengan metode analisis bentuk, sedangkan kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan tersebut, melainkan dengan metode sanggar.
Untuk melaksanakan eksperimen ini, kepada kelompok perlakuan, pertama-tama diberi pengetahuan perihal analisis bentuk, kemudian diberi kiprah melukis. Setelah itu, mahasiswa dikumpulkan dan dilibatkan dalam diskusi pembahasan hasil karya dengan memakai metode analisis bentuk. Selanjutnya, setiap kali selesai melaksanakan kiprah melukis, mahasiswa dilibatkan dalam diskusi pembahasan hasil karya mahasiswa dengan metode yang sama. Sebaliknya, bagi kelompok kontrol, mahasiswa hanya diberi kiprah melukis dan diakhiri dengan pembahasan sepintas terhadap hasil karya mahasiswa tanpa memakai analisis bentuk.
D. Teknik pengunpulan data
Data penelitian yaitu nilai hasil mencar ilmu seni lukis. Untuk itu, dari 6 buah karya kiprah pada mata kuliah Seni Lukis Lanjut diambil 3 buah karya yang terbaik, di-nilai dan balasannya dijumlahkan sebagai skor kemampuan mahasiswa. Penilaian karya dilakukan oleh empat orang dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: A = 5, B = 4, C = 3, D = 2, dan E = 1. Jika perlu, penilai sanggup memakai tanda" + " atau "-" pada huruf-huruf tersebut dengan harga 0,25. Jadi, contohnya B+ = 4,25, sedangkan C- - 2,75. Penilaian karya seni lukis di sini dilakukan berdasarkan mekanisme pem-berian judment dengan dosen bertindak sebagai expert.
E. Teknik Analisis Data
Menurut Borg dan Gall (1983), analisis data yang dipakai untuk desain eksperimen tersebut yaitu analisis kovariansi. Analisis kovariansi yaitu mekanisme analisis statistik untuk membedakan dua rerata pada varia-bel terikat dengan mempertimbangkan variabel sertaan. Untuk melaksanakan analisis kovariansi ini, lebih dulu dilakukan uji perkiraan berupa uji normalitas sebaran, uji homogenitas variansi, dan uji homogenitas regresi. Analisis data penelitian ini seluruhnya dilakukan dengan jadwal analisis komputer oleh Sutrisno Hadi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan selama sepuluh ahad pada semester ganjil tahun akademik 2005/2006. Sebagai kelompok eksperimen, diambil mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Rupa Kelas A yang terdaftar sebanyak 18 orang, sedangkan kelompok kontrol yaitu Kelas B sebanyak 14 orang, sehingga seluruhnya berjumlah 32 orang mahasiswa. Semua mahasiswa mengikuti eksperimen ini secara penuh dari awam hingga akhir, sehingga tidak ada subyek yang gugur.
Perlakuan eskperimen yakni metode analisis bentuk di berikan kepada kelas A oleh dua orang dosen Program Studi Pendidikan Seni Rupa, tetapi perkuliahan secara keseluruh-an tetap dilaksanakan dosen yang memegang mata kuliah seni lukis (Seni Lukis Lanjut). Metode analisis bentuk pertama-tama diperkenalkan, kemudian metode tersebut diterapkan dalam pembahasan hasil karya praktek mahasiswa. Pada final eksperimen., terkumpul 6 buah karya mahasiswa, tetapi, sebagai pertimbangan akhir, hanya diambil tiga karya ter-baik.
B. Hasil Penelitian
Data yang terkumpul dalam penelitian ini seluruhnya berjumlah 364 nilai yaitu nilai yang diberikan 4 penilai terhadap karya seni lukis 32 mahasiswa, masing-masing 3 karya. Dari seluruh nilai tersebut, kemudian dihasilkan 32 skor kemampuan melukis mahasiswa yaitu skor untuk variabel terikat Y (Seni Lukis Lanjut). Untuk variabel sertaan X, skor yang dipakai yaitu nilai mahasiswa pada mata kuliah seni lukis pada semester keempat (Seni Lukis Dasar Lanjut).
Uji perkiraan memperlihatkan bahwa skor pada kedua variabel tersebut mengikuti distribusi normal dan memperlihatkan homo-genitas variansi. Uji homogentias regresi juga memperlihatkan bahwa regresi variabel X terhadap Y pada kedua kelompok yaitu homogen .
Selanjutnya, analisis kovariansi menghasilkan kesim-pulan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara re-rata sesuaian pada skor kelompok eksperimen dan rerata sesuaian pada skor kelompok kontrol (^=4,441, p=o,043). Dengan demikian hipotesis nol yang menyampaikan bahwa tidak terdapat perbedaan antara kemampuan melukis pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ditolak. Hal in i berarti bahwa dalam eksperimen ini, metode analisis bentuk mem-berikan hasil lebih baik terhadap metode sanggar yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta diterima.
C. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini mempunyai kekurangan-kekurangan antara lain bahwa penelitian tidak dilakukan dengan waktu yang cukup lama, sehingga manfaat metode analisis bentuk sanggup lebih terang diketahui. Penggunaan metode analisi bentuk secara ideal seharusnya dilakukan oleh dosen yang memegang mata kuliah seni lukis itu sendiri. Pemberian analisis bentuk oleh dosen lain sanggup memperlihatkan efek ter-sendiri terhadap proses mencar ilmu mahasiswa. Selain itu, pe-nilaian karya seni lukis mahasiswa untuk semester sebe-lumnya merupakan data yang sudah ada, sehingga obyektivi-tasnya mungkin tidak sama dengan evaluasi karya pada hasil eksperimen ini.
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesinpulan
Dari hasil penelitian sanggup clisimpulkan sebagai berikut:
- Metode analisis bentuk yang dicobakan pada mahasiswa Semester V Program Studi Pendidikan Seni Rupa mempunyai efek yang positif terhadap kemampuan mencar ilmu seni lukis.
- Pengaruh tersebut ditunjukkan oleh perbedaan prestasi seni lukis pada kelompok mahasiswa yang mendapat metode analisis bentuk dengan prestasi seni lukis pada kelompok mahasiswa yang tidak mendapat metode analisis bentuk.
- Metode analisis bentuk bisa memperlihatkan tunjangan bagi metode pengajaan seni lukis yang dilaksanakan di Program Studi Pendidikan Seni Rupa FBS UNY Yogyakarta.
B. Inplikasi
Analisis bentuk memperlihatkan pemahaman yang sistematis terhadap struktur karya seni lukis. Dalam penelitian ini, analisis bentuk sanggup diterima oleh mahasiswa dan mem-bangkitkan kemampuan mahasiswa dalam berdiskusi perihal karya seni lukis. Analisis bentuk sanggup dimanfaatkan dalam pengajaran seni lukis secara teortis maupun praktek.
C. Saran
Pengetahuan analisis bentuk hendaknya diberikan kepada mahasiswa semenjak awal dan sejalan dengan pengajaran desain dasar. Untuk mengetahui manfaat analisis bentuk se-cara lebih luas, perlu dilakukan eksperimen di cabang-cabang seni rupa yang lain. Untuk perbaikan penelitian ini, perlu dilakukan eksperimen yang berjangka waktu lebih lama, contohnya satu tahun.
DAFTAR PUSTAKA
- Balrlinger, Wallace S. (1960). The Visual Arts. Mew York Holt Rinehart and Winston
- Borg, Walter R., Gall, Meredith D.. (1983) Educational Research An Introduction, New York: Longman Inc.
- Bastomi, Suwaji. (1992). Wawasan Seni. Semarang: IKIP Semarang Press.
- Cleaver, Dale G. (1966). Art an Introduction. New York: Holt Rinehart and Winston.
- Myers, Bernard S. (1958). Understanding the Arts. MewYork: Harcourt Brace & World.
- Miles, M.B. dan Huberman, A.M. (1992) Analisis Data Kualitatif (terj. Rohidi, T.R.). Jakarta: Universitas Indonesia Press.
- Moleong, L. J.(1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
- Nasution, S. (2000). Metode Research ( penelitian Ilmiah). Jakarta: Bumi Aksara
- Sahman, Humar. (1993). Mengenal Dunia Seni Rupa. Semarang: IKIP Semarang Press.
- Sidik, Fajar. dan Prayitno, Aming. (1981). Desain Elementer. Yogyakarta:
- STSRI’’ASRI”Soedarso SP. (1990). Tinjauan Seni. Yogyakarta: Saku Dayar Sana Yogyakarta.
- Fildmand, E. B. (1967). Art As Image and Idea. Prestice-Hall: Englewood Cliffs. New Jersey.
- Holt, C. (2000). Melacak Jejak Perkembangan Seni di Indonesia (terj. R. M. Soedarsono). Bandung: MSPI Bandung