Pengertian Puisi Sebagai Karya Sastra Berdasarkan Ahli
Sunday, May 3, 2020
Edit
Puisi sebagai Karya Sastra
Puisi yaitu karya sastra dan semua karya sastra bersifat imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif lantaran banyak memakai makna kias dan makna lambing atau majas. Hal ini disebabkan terjadinya pemadatan atau pengkonsentrasian segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Pengertian puisi itu sendiri berdasarkan Schmittdan Viala (1982:115) ada 3 pengertian, yaitu :
Sedangkan berdasarkan Mathew Arnold dalam Tarigan (1984:3) yaitu satu-satunya cara yang paling indah, impresif dan paling efektif untuk mendendangkan sesuatu. Larousse (1933:796) pun mendefinisikan puisi sebagai berikut :
Une poésie est l’art de combiner les sonorités, les rythmes, les mots d’une langue révoquer des images suggérer des sensations, des émotions.Puisi yaitu seni dalam mengkombinasikan suara, irama, kata dalam bahasa untuk menghidupkan khayalan, ingatan kesan, luapan perasaan.
Pada masa kini ini, secara etimologis makna puisi telah menyempit, yaitu merupakan hasil seni sastra yang kata-katanya disusun berdasarkan syarat tertentu dengan memakai irama, sajak, dan kata kiasan. Seperti yang diungkapkan Bellefonds, dkk, (1993:789) yaitu “Un poème est un texte poétique en vers ou en prose; Puisi yaitu kalimat puitis dalam bait atau prosa” dan “La poésie est l’art d’évoquer des impressions, des sentiments ou de décrire des objets grâce à l’harmonie de sons et au rythme des mots; Puisi yaitu seni untuk membangkitkan kesan, perasaan atau menggambarkan benda melalui harmoni bunyi dan irama kata-kata”.
Kepuitisan sanggup dicapai dengan majemuk cara, contohnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakkan, asonansi, kiasan bunyi, aliterasi, lambang rasa dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Dalam mencapai kepuitisan itu, penyair mempergunakan banyak cara sekaligus, secara bersamaan untuk mendapat imbas puitis yang sebanyak-banyaknya (Altenbernd, 1970:4-5). Antara unsur pernyataan (ekspresi) sarana kepuitisan yang satu dengan yang lain saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semua itu untuk mendapat kepuitisan seefektif dan seintensif mungkin. Seperti kata R. Jackobson (via Larrouse, 1933 :368) yaitu “La fonction poétique est la fonction du langage par laquelle un messagepeut-être un Å“uvre d’art;fungsi kepuitisan yaitu fungsi dari bahasa itu sendiri dalam memberikan pesan sebuah karya seni”.
Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan inovasi. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre via Pradopo, 2005:3). Sehingga, sangatlah sulit untuk membatasi pengertian puisi lantaran adanya perbedaan pendapat dan konsep dari setiap orang. Puisi merupakan lisan dari pengalaman imajinatif dari manusia, maka yang pertama kali diperoleh ketika pembaca membaca puisi yaitu pengalaman. Sehingga, semakin banyak membaca serta menikmati puisi, maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh dan dinikmatinya (Tarigan, 1989:8).
SUMBER;
http://eprints.uny.ac.id/9823/3/BAB2%20-%2007204244030.pdf
Puisi yaitu karya sastra dan semua karya sastra bersifat imajinatif. Bahasa sastra bersifat konotatif lantaran banyak memakai makna kias dan makna lambing atau majas. Hal ini disebabkan terjadinya pemadatan atau pengkonsentrasian segenap kekuatan bahasa di dalam puisi. Pengertian puisi itu sendiri berdasarkan Schmittdan Viala (1982:115) ada 3 pengertian, yaitu :
- Une poèsie est un texte en vers (ou en prose rythmée)
- La poèsie est l’art de faire des vers
- La poèsie est la qualité particulière de tout ce qui touché, charme,élève l’esprit
- Puisi yaitu teks dengan larik dan bait atau prosa yang berirama.
- Puisi yaitu seni dalam menciptakan larik
- Puisi yaitu karya berkualitas yang khusus pada semua hal yang
Sedangkan berdasarkan Mathew Arnold dalam Tarigan (1984:3) yaitu satu-satunya cara yang paling indah, impresif dan paling efektif untuk mendendangkan sesuatu. Larousse (1933:796) pun mendefinisikan puisi sebagai berikut :
Une poésie est l’art de combiner les sonorités, les rythmes, les mots d’une langue révoquer des images suggérer des sensations, des émotions.Puisi yaitu seni dalam mengkombinasikan suara, irama, kata dalam bahasa untuk menghidupkan khayalan, ingatan kesan, luapan perasaan.
Pada masa kini ini, secara etimologis makna puisi telah menyempit, yaitu merupakan hasil seni sastra yang kata-katanya disusun berdasarkan syarat tertentu dengan memakai irama, sajak, dan kata kiasan. Seperti yang diungkapkan Bellefonds, dkk, (1993:789) yaitu “Un poème est un texte poétique en vers ou en prose; Puisi yaitu kalimat puitis dalam bait atau prosa” dan “La poésie est l’art d’évoquer des impressions, des sentiments ou de décrire des objets grâce à l’harmonie de sons et au rythme des mots; Puisi yaitu seni untuk membangkitkan kesan, perasaan atau menggambarkan benda melalui harmoni bunyi dan irama kata-kata”.
Kepuitisan sanggup dicapai dengan majemuk cara, contohnya dengan bentuk visual: tipografi, susunan bait; dengan bunyi: persajakkan, asonansi, kiasan bunyi, aliterasi, lambang rasa dan orkestrasi; dengan pemilihan kata (diksi), bahasa kiasan, sarana retorika, unsur-unsur ketatabahasaan, gaya bahasa, dan sebagainya. Dalam mencapai kepuitisan itu, penyair mempergunakan banyak cara sekaligus, secara bersamaan untuk mendapat imbas puitis yang sebanyak-banyaknya (Altenbernd, 1970:4-5). Antara unsur pernyataan (ekspresi) sarana kepuitisan yang satu dengan yang lain saling membantu, saling memperkuat dengan kesejajarannya ataupun pertentangannya, semua itu untuk mendapat kepuitisan seefektif dan seintensif mungkin. Seperti kata R. Jackobson (via Larrouse, 1933 :368) yaitu “La fonction poétique est la fonction du langage par laquelle un messagepeut-être un Å“uvre d’art;fungsi kepuitisan yaitu fungsi dari bahasa itu sendiri dalam memberikan pesan sebuah karya seni”.
Sepanjang zaman puisi selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Hal ini mengingat hakikatnya sebagai karya seni selalu terjadi ketegangan antara konvensi dan inovasi. Puisi selalu berubah-ubah sesuai dengan evolusi selera dan perubahan konsep estetiknya (Riffaterre via Pradopo, 2005:3). Sehingga, sangatlah sulit untuk membatasi pengertian puisi lantaran adanya perbedaan pendapat dan konsep dari setiap orang. Puisi merupakan lisan dari pengalaman imajinatif dari manusia, maka yang pertama kali diperoleh ketika pembaca membaca puisi yaitu pengalaman. Sehingga, semakin banyak membaca serta menikmati puisi, maka semakin banyak pula pengalaman yang diperoleh dan dinikmatinya (Tarigan, 1989:8).
SUMBER;
http://eprints.uny.ac.id/9823/3/BAB2%20-%2007204244030.pdf